Awan putih bergumpal dalam alam subur. Gunung, bukit, dan laut mengitari menjaga dengan hijau dan biru yang memanjakan mata. Betapa kesempatan dari Sang Pencipta menjadi sebuah keberuntungan. Inilah Irian Jaya (Glorious Irian), nama yang diberikan oleh presiden Soeharto. Nama propinsi ini berganti menjadi Papua pada pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid sejak tahun 2001.

Sebuah bayangan menjelma jadi kenyataan. Papua, seperti dibilang banyak kata, indah tak terbantahkan. Hal lain yang menarik saat saya disambut oleh bibir-bibir merah, kontras sekali dengan kulit hitam. Aha! Rupanya masyarakat Papua memiliki kebiasaan mengunyah sirih pinang. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat Papua. Baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, tanpa membedakan status sosial. Bahkan anak kecilpun sudah terbiasa menginang dan meninggalkan warna merah di gigi. Sedangkan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, menginang banyak dilakukan oleh golongan usia lebih tua.

Mengunyah sirih pinang adalah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia di beberapa daerah. Di Kalimantan, kebiasaan menginang atau menyirih sudah dikenal sejak abad ke-9 sampai ke-10 masehi. Kebiasaan mengunyah sirih juga tersebar luas di India Selatan dan Cina pada abad ke-15. Ramuan pokok yang biasa digunakan di Kalimantan Timur adalah: gambir, kapus sirih, dan buah pinang. Sedangkan ramuan pelengkap bisa terdiri dari tembakau, kapulaga, cengkih, kunyit. Ramuan pelengkap ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Pada jaman perniagaan, sebakul bahan-bahan sirih lebih berharga daripada makanan, sebab dapat menanggungkan rasa lapar dan haus. Para prajurit biasa juga memerlukannya untuk mengembalikan kekuatan dan keberanian mereka.

Di kalangan bangsawan, sirih pinang kerap disuguhkan ketika raja menjamu tamu asing yang datang. Augustine de Beaulieu yang mengunjungi kesultanan Aceh antara tahun 1620-1621 diterima oleh Sultan Iskandar Muda dengan suguhan bejana besar dari emas yang penuh dengan sirih. Di dalam pergaulan sosial, kedudukan sirih pinang sama dengan kopi, teh, minuman keras, dan rokok dewasa ini.

Di dalam bandara Sentani Jayapura, saya menemukan beberapa stiker di dinding bertuliskan “Dilarang makan pinang”. Mungkin yang perlu ditertibkan adalah jangan meludah sembarangan setelah makan sirih pinang. Mengapa? Karena residu yang dihasilkan dari mengunyah sirih pinang ini adalah ludah berwarna merah juga sisa serat pinang. Jadi banyak ditemukan sisa residu merah di pojok-pojok jalanan yang menyatu dengan aspal dan dinding. Sedangkan di pelataran bandara Sentani, terdapat papan biru bertuliskan “Tempat Plastik Ludah Pinang” dengan banyak kantong plastik hitam digantungkan, dan tempat sampah besar di sampingnya. Unik.

Bagi masyarakat Papua, waktu untuk menginang tidak ada batasnya, bisa pagi, siang, sore, ataupun malam. Mereka mengunyah pinang seperti kebiasaan seseorang minum kopi, teh, dan merokok. Menginang dipercaya dapat menguatkan gigi dan mengharumkan nafas. Kenikmatan menginang ini, yang membuat masyarakat Papua tidak mengenal waktu dan frekuensi menginang. Mengunyah sirih pinang merupakan simbol pemersatu, dan membangun tali persaudaraan. Jadi jika kita ditawari sirih dalam suatu acara, kita tidak boleh menolak, karena sirih pinang merupakan simbol penghormatan.

Tidak seperti di pulau Jawa, masyarakat Papua menggunakan buah sirih ketimbang daun sirih sebagai campuran pinang dan kapur. Terkadang mereka menggunakan pinang yang sudah dibelah dan dikeringkan. Banyak penjual pinang yang saya lihat di pasar dan di pinggir jalan di Jayapura, Merauke, dan Manokwari. Bahkan di depan bandara Rendani Manokwari ada dua penjual sirih pinang yang bersebelahan. Mungkin suatu saat akan ada teknologi yang sudah dapat menyatukan ramuan sirih pinang yang ready to chew, dan dapat dengan mudah dibawa ke tempat jauh.

Warisan tradisional menginang pada masyarakat Papua patut dilestarikan. Menginang erat kaitannya dengan tata pergaulan atau alat pergaulan sosial. Sajian sirih merupakan hakikat sopan santun dan keramahtamahan. Arwah para leluhur juga harus diberi sesaji sirih-pinang pada setiap upacara ritus yang penting. Sirih pinang yang disajikan dan dikunyah merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upacara penyembuhan, kelahiran dan kematian, bahkan upacara perkawinan.

Dalam relief Candi Borobudur dan Candi Sukuh, digambarkan bahwa pinang sudah menjadi bagian hidup masyarakat nusantara. Megagumkan bukan? Jaman dahulu, tempat menginangnyapun bermacam-macam, yaitu berbahan kuningan, kayu, anyaman rotan. Hal ini tergantung dari daerah masing-masing.

Filosofi dari masing-masing bahan sirih pinang adalah sirih dianggap dapat mengajarkan sifat rendah hati dan memuliakan orang karena tanamannya merambat, memerlukan sandaran untuk tumbuh tapi tidak merusak sandarannya. Pohon pinang yang tumbuh tinggi dianggap lurus dalam budi pekerti, berderajat tinggi. Kapur yang putih menyimbolkan hati yang bersih dan tulus.

Budidaya pinang harus digalakkan untuk menunjang kelestarian dan keberadaannya. Keanekaragaman budaya dan hayati di Papua pun juga patut dilestarikan.

Save Papua!

Share