Sebelum memulai perjalanan, jam 07.00 pagi kami sarapan terlebih dahulu. Kami menyantap nasi kuning khas Banjar, yaitu nasi kuning dengan lauk mie goreng, ikan haruan masak merah, dan ada juga pilihan ayam masak merah atau telur. Cita rasa nasi kuning ini manis. Di kedai ini ada juga suguhan “Untuk-Untuk” yaitu roti goreng bulat dengan pilihan isi unti dan kacang hijau.

Jam 08.00 kami mulai menyusuri sungai Mahakam dengan speed boat. Rasanya senang sekali bisa kembali menyusuri sungai Mahakam dan dapat menikmati keindahan hutan di kanan kiri sungai. Meskipun sisi-sisi sungai Mahakam sudah dihiasi tongkang berisi batu bara, saya tetap menikmati alam, hutan dan indahnya langit biru berselimut awan yang saling menggumpal.

Bersiap menyusuri sungai Mahakam (Copy)

Bersiap menyusuri sungai Mahakam

Setelah 2 jam perjalanan, sampailah kami di kecamatan Muara Pahu. Sesampainya di sana kami menjumpai Pak Syuriansyah, pengrajin kerupuk bumbu. Bumbu yang ia gunakan adalah ketumbar, bawang putih, dan garam. Di tempat ini, saya memborong kerupuk bumbu, jajanan tradisional elat sapi ( sepertinya terinspirasi dengan bentuk lidah sapi), kue cincin, dan kue keminting yang terbuat dari tepung kanji.

sibuk menjemur kerupuk bumbu (Copy)

Sibuk menjemur kerupuk bumbu

Pak Syuriansyah, pengrajin kerupuk Bumbu (Copy)

Pak Syuriansyah, pengrajin kerupuk Bumbu

Foto Industri Rumah Tangga Kerupuk Ikan Belida Nor Baiti (Copy)

Foto Industri Rumah Tangga Kerupuk Ikan Belida Nor Baiti

 

Di sepanjang jalan berkayu ulin, saya menemukan tanaman liar yanga sering dimakan burung, yakni Buah Perpat. Buah ini bila muda berwarna hijau dengan rasa asam. Sedangkan yang berwarna merah dan hitam, rasanya manis.

Buah Perpat (Copy)

Buah Perpat

 

Beberapa petani terlihat diantara hamparan padi yang menguning, ada juga yang sedang menggiling padi dengan alat sederhana. Penggilingan ini adalah proses memisahkan sekam dan kulit luar biji padi untuk memperoleh beras yang biasa kita konsumsi. Terlihat juga hamparan padi yang sedang dikeringkan di atas terpal, teriknya matahari sangat tepat untuk pengeringan secara alami. Serunya,  ternyata saat saya berada di sana, kebetulan sedang ada panen raya!

Bersiap untuk Panen Raya (Copy)

Bersiap untuk Panen Raya

Proses Penggilingan Padi (Copy)

Proses Penggilingan Padi

Menjemur Padi (Copy)

Menjemur Padi

Oh ya, karena hari ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam, anak-anak sekolah melakukan pawai, anak-anak kecil, dewasa , laki dan perempuan tampak riang berpawai. Sebeum kembali menyusuri sungai Mahakam, saya dan teman-teman sempat berfoto dengan Kepala Adat Besar Kamaruzzaman di kecamatan Penyinggahan.

Pawai (Copy)

Pawai

Meriahnya Pawai (Copy)

Meriahnya Pawai

Dengan speed boat, kami menuju Kampung Tanjung Haur untuk melihat proses pengasinan ikan. Ibu-ibu pengrajin sedang sibuk memproses ikan, Mereka membersihkan ikan dari sisik, insang sampai isi perut. Ikan yang sudah bersih dibelah sepanjang garis punggung kearah perut, tidak sampai terbelah dua. Jika ikan yang diasinkan berukuran kecil, ikan hanya cukup dicuci dengan air bersih tanpa diproses/disiangi. Selanjutnya ikan ditempatkan dalam satu bak besar untuk diasinkan dengan proses penggaraman basah.

Pengrajin sedang menyiangi ikan untutk ikan asin (Copy)

Pengrajin sedang menyiangi ikan untutk ikan asin

Ada beberapa jenis ikan air tawar yang diproses, yaitu ikan Kendiak, Repang, dan ikan Puyau. Mereka juga menjual telur ikan Kendiak yang sudah di asinkan di dalam toples. Setelah puas melihat pemrosesan ikan asin dan berbelanja, kami menuju speed boat dan  mengunjungi pengrajin gula aren di Kampung Minta dan menemui Pak Hardi (60 tahun) yang memiliki usaha pembuatan gula habang dari aren. Seruya, pembuatan gula aren ini tempatnya terbuka, di antara kebun-kebun pohon aren mereka.

Pembuatan Gula Aren (Copy)

Pembuatan Gula Aren

Kurang lebih pukul 13.00 kami sudah  sampai di Kecamatan Penyinggahan untuk santap siang dengan Pak Camat Nanang beserta istri. Nikmatnya, makan siang sambil menikmati terik dan pemandangan sungai Mahakam. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah perut kenyang, kami menyusuri jalan setapak diantara genangan sungai mahakam, menuju perajin kerupuk ikan belida Nor Baiti, di desa Tanjong Laong, Kecamatan Muara Pahu.

Pemandangan sungai Mahakam (Copy)

Pemandangan sungai Mahakam

Foto bersama Bapak & Ibu Camat (Copy)

Foto bersama Bapak & Ibu Camat

Foto dengan Bu Camat dan penyerahan buku 30 IKTI (Copy)

Foto dengan Bu Camat dan penyerahan buku 30 IKTI

Selesai sudah menyusuri sungai Mahakam yang luas. Sesampainya di Pelabuhan Melak, kami menuju Kawasan Konservasi Cagar Alam Kersik Luway yang berada di kecamatan Sekolaq Darat. Pemandangannya? Sungguh indaaaaaah dan mempesona! Kersik Luway memiliki arti Pasir Sunyi. Sesuai artinya, cagar alam ini sangat sunyi, rimbun, dan diselimuti pasir putih. Menakjubkan berjalan di bukit, serasa di pantai karena berpasir tapi tidak berpantai.

Pak Didimus selaku guide mengajak kami menjelajah masuk hutan. Tentunya selaku guide , Neliau hapal betul posisi flora Anggrek Hitam langka (Coelogyne pandurata) yang tumbuh di banyak tempat di area cagar alam. Flora ini merupakan spesies asli Kalimantan. Cantik nian Anggrek Hitam ini!

Foto Cagar Alam Kersik Luway (Copy)

Foto Cagar Alam Kersik Luway

Anggrek Hitam (Copy)

Anggrek Hitam

Banyak pohon Kerimunting di diantara pohon pohon kantung semar (Nephentes) dan perdu perduan lainnya. Saya melihat ada dua jenis kantung semar, hijau dan merah.

Kantung Semar (Copy)

Kantung Semar

Hari ini cukup melelahkan, tapi banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Apalagi memori keindahan Cagar Alam Kersik Luway yang takkan terlupakan.

Berfoto bersama kepala adat besar bapak Kamaruzzaman (Copy)

Berfoto bersama kepala adat besar bapak Kamaruzzaman

Share