Pertengahan April 2018, saya mengisi satu kelas Food for Thought di Ubud Food Festival 2018. Saya duduk bersama Kadek Lisa dan Fransiska Natalia (Fair Trade Auditor), I Made Chakra (Tri Hita Karana Bali), dan moderator Dr. Jeffrey Neilson (Geografer dari University of Sydney).
Menurut data FAOSTAT 2014, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang memproduksi beras terbanyak di dunia. Konsumsi beras di Indonesia, tercatat hampir 150 kilogram/orang/tahun pada tahun 2017. Sedangkan Myanmar, Vietnam, dan Bangladesh memiliki konsumsi beras per kapita yang lebih tinggi dibanding Indonesia. Indonesia, sebagai negara kepulauan memiliki potensi pangan lokal yang berbeda satu dengan lainnya.
Indonesia memiliki banyak sumber pangan karbohidrat seperti: Sagu, Ketela pohon, Sukun, Garut, Jagung, Kentang, Ubi Jalar, Talas, Suweg, Gembili, dan masih banyak jenis umbi lainnya. Artinya, masih banyak bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan dan di manfaatkan sebagai alternatif pengganti beras. Dengan demikian, ketahanan pangan pun dapat berjalan baik, dan tidak bertumpu pada beberapa komoditas tertentu seperti beras.
Diversifikasi Pangan sangat penting, karena tidak ada satu bahan pangan yag memilik nilai gizi sempurna. Semakin beragam makanan yang dikonsumsi, makin lengkap asupan gizi yang diterima tubuh.
Topik Penganekaragaman Pangan memang sudah banyak diperbincangkan. Untuk teman-teman yang belum tahu, penganekaragaman pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal untuk mewujudkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sehat, aktif, dan produktif.
Penganekaragaman pangan dapat dicapai secara:
1. Vertikal: dengan variasi cara pengolahan
2. Horizontal: dengan memanfaatkan aneka bahan makanan
3. Regional: dengan memanfaatkan produk pangan unggulan yang sesuai dengan kondisi agroklimat dan daya dukung daerah
Penganekaragaman pangan ini juga berkaitan erat dengan Food Security, yaitu suatu kondisi di mana ketersediaan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sebenarnya punya banyak bahan pangan yang bisa dimanfaakan untuk penganekaragaman. Ada sembilan kelompok bahan pangan yaitu padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, dan lain-lain. Dari sembilan kelompok di atas, banyak bukan yang bisa teman-teman temui di Indonesia.
Bahkan banyak sekali makanan daerah di Indonesia yang menggunakan bahan pangan non beras. Contohnya ada Nasi Jagung (Madura), Binthe Biluhuta (Gorontalo), Tinutuan (Sulawesi Utara), Jagung Bose (NTT), dan lainnya yang menggunakan jagung. Kemudian kita juga bisa menemukan banyak makanan yang menggunakan singkong di Indonesia seperti Beras Aruk, Beras Singkong, dan Tiwul. Ada pula makanan dengan bahan pangan sagu seperti Kapurung (Sulawesi Selatan), Papeda dan Sinole (Papua), Sinonggi (Kendari-Sulawesi).
Banyak bukan? Betapa beruntungnya kita tinggal di Indonesia dengan banyak alternatif pangan yang bisa kita manfaatkan. Hanya butuh kesadaran dari kita untuk mau mencoba bahan pangan alternatif beras yang lebih sehat. Selamat mencoba 🙂
Sumber foto: UFF 2018
