Kita semua tahu tentang istilah kuliner. Namun apakah ada teman-teman yang tahu dengan istilah gastronomi?

Gastronomi bukan hanya sebatas kuliner, melainkan sebuah mata rantau panjang keberadaan makanan dari hulu sampai hilir. Gastronomi inilah yang memiliki kekuatan besar sebagai media diplomasi daman mempresentasikan kedaulatan negara yang memiliki sejarah budaya dengan peradaban tinggi.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan aspek gastronomi yang sangat potensial bisa memberikan kontribusi dalam pengembangan dan peningkatan ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu, saya rasa perlu bagi semua pelaku kuliner untuk duduk bersama dan membahas pengembangan gastronomi di Indonesia.

Menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk duduk sebagai moderator di Dialog Gastronomi Nasional 2015. Pada acara tersebut saya bertugas untuk menengahi perbincangan tentang Globalisasi Makanan Indonesia bersama Natanael (pebisnis kopi), Chef Haryo Pramoe (Indonesian Chef Association), Zee Barani (Chef Healthy Food), dan Reno Andam Suri (Pelangi Benua).

IMG_0041

Salah satu yang menjadi pertimbangan kami adalah bagaimana caranya agar masakan Indonesia bisa diterima di masyarakat kita sendiri. Sebagaimana kita tahu, sudah banyak kegiatan diplomasi makanan Indonesia ke luar negri, namun rasanya masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih meminati makanan luar negri.

Dari presentasi Natanael, kita bisa melihat perjuangannya untuk menghargai kopi hasil tanah Indonesia. Yang menarik adalah dirinya membuat desain bungkus kopi miliknya dengan melampirkan cerita para petani di Indonesia. Dari situ kita jadi tahu cara menghargai petani kopi di negeri sendiri. Dari soal rasa pun, kopi buatan Indonesia tidak kalah dengan luar negri, kok! Setuju?

Sementara itu di presentasi Chef Haryo Pramoe tetang tren makanan Indonesia di masa depan, kita jadi tahu kalau makanan tradisional Indonesia memiliki filosofi, kearifan lokal, dan cara pengelolaaan yang turun temurun. Inilah jiwa makanan Indonesia yang seharusnya dipertahankan masyarakat tanah air.

Chef Haryo juga memberikan perbandingan singkat tentang bagaimana jajanan kaki lima di Indonesia yang masih kurang tertata rapi dibanding negara lain. Sepertinya, kita pun harus lebih banyak belajar dengan negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang benar-benar memperhatikan tatanan penjaja pinggiran mereka.

Lain lagi dengan masukan dari Zee Barani. Menurutnya tren yang sedang giat dengan makanan sehat bisa jadi potensi dalam pengembangan gastronomi di Indonesia. Bukan tidak mungkin, obat-obatan tradisional dan dedaunan herbal khas Indonesia jadi alternatif untuk pola makan sehat dan juga pengobatan dengan cara yang lebih alami.

Presentasi pun ditutup dengan cerita tur Gastronomi oleh Reno Andam Suri. Perempuan yang akrab disapa Uni itu menyarankan agar tur Gastronomi bisa lebih diperhatikan. Tur gastronomi adalah bepergian ke destinasi khusus untuk menikmati makanan dan festival lokal. Ini adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk menarik para turis lokal dan mancanegara untuk mengenal makanan lokal Indonesia.

Bersama seluruh pembicara Dialog Gastronomi Nasional hari pertama

Bersama seluruh pembicara Dialog Gastronomi Nasional hari pertama

Selesai presentasi, di luar dugaan banyak sekali para peserta workshop yang bertanya dan ikut memberikan pendapat. Memang saya rasa, berbicara soal makanan Indonesia itu tidak ada habisnya. Perbincangan pun berlanjut hingga lebih dari jam yang ditentukan.

Saya sendiri sangat senang karena banyak yang peduli dengan kuliner di Indonesia. Semua masukan yang didapat dari diskusi tersebut sebenarnya bisa menjadi catatan bagi para pelaku kuliner untuk menggaungkan masakan Indonesia. Semoga ke depannya masakan Indonesia bisa diterima di negara sendiri dan tentunya di mancanegara.

Share