Posted by on Apr 30, 2014 in Blog | 0 comments

Culinary Sharing Cerita Citarasa Sumatera, 25 April 2014

Sebagai salah satu kegiatan Aku Cinta Masakan Indonesia, saya, om William Wongso dan tim ACMI, 25 April 2014 lalu memberikan Culinary Sharing mengenai kuliner Sumatera di Galeri Indonesia Kaya. Dengan tema Cerita Citarasa Sumatera, saya sharing mengenai Sumatera sebagai primadona perdagangan rempah-rempah pada abad ke 16-17.

Sebelumnya saya mau bertanya, apakah teman-teman tahu bahwa pada abad ke 16-17 kapal-kapal berdatangan untuk singgah, meskipun Pelabuhan Banda Aceh termasuk pelabuhan yang sulit untuk dilabuhi? Para pedagang ini ternyata berlomba-lomba untuk mendapatkan rempah terbaik dari pulau Sumatera dan sekitarnya, juga dari kepulauan Maluku

photo 2 (3) (Copy)
Khazanah kuliner nusantara banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan asing seperti Arab, Cina, dan Eropa karena posisi nusantara yang berada di lalu-lintas perdagangan dunia. Sebagai contoh adalah kari India yang bermigrasi dan berasimilasi dari daerahnya hingga ke Sumatera. Terdapat sejumlah variasi masakan Kari di Medan, Aceh Besar, Aceh utara, Aceh timur, Pidie, dan Aceh Barat. Yang paling banyak menggunakan rempah adalah Aceh timur dan Pidie yaitu 22 jenis rempah.

Itulah kira-kira yang saya jelaskan, jadi buat teman-teman yang berhalangan datang, tidak ketinggalan informasi kan?

Selain itu, para peserta juga dikenali dengan bumbu-bumbu khas Aceh, misalnya U Neulheu (kelapa gongseng), asam sunti, dan daun temurui (daun kari). Ada juga Om William Wongso yang ikut bercerita mengenai keseruannya melakukan Culinary Diplomacy ke berbagai negara. Di tengah om Wiliam Wongso menjelaskan, beliau juga mengundang ibu Dewi, perwakilan dari Pemda Jambi yang membawa nasi minyak dan daging melbi. Serunya, nasi minyak ini tidak pakai santan loh, melainkan menggunakan susu! Dagingnya juga menggunakan banyak rempah, rasanya jadi seru di mulut.

 

photo 3 (Copy)
Bukan ACMI namanya kalau tidak ada sesi icip-icip, setuju? Ada Ayam Bak Kala, kuliner khas Aceh buatan Astrid Enricka. Kala dalam bahasa Aceh adalah kecombrang (honje). Pokoknya bikin jadi wangi sekali! 

photo 3 (2) (Copy)
photo 1 (4) (Copy)
Itu kira-kira dibalik cerita ACMI di Galeri Indonesia Kaya kemarin lalu, terima kasih buat yang datang dan yang telah ikut andil dalam acara ini. Semoga makin cinta deh sama masakan Indonesia!
photo 3 (1) (Copy)

 

Untitled-1 (Copy)

Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: